Novel · · 4 min read

Chapter 6 - Kelas Tambahan dan Cemburu yang Tidak Disengaja

Chapter 6 - Kelas Tambahan dan Cemburu yang Tidak Disengaja

Keesokan harinya, sekolah tampak lebih cerah setelah hujan semalam. Tapi Rena justru merasa hatinya… tidak cerah sama sekali. Sepanjang pagi, pikirannya masih penuh dengan momen “satu payung berdua” yang bikin tidur semalam tidak nyenyak.

 

Di kelas, Dita langsung menyerbu begitu datang.
“RENAAA! Kamu pulang bareng ARVAN ya kemarin?!”
“SSSTTT! Jangan keras-keras!” Rena menutup mulut temannya sambil panik. “Itu cuma… kebetulan! Hujan! Payung! Basic survival!”

 

Dita menaikkan alis. “Survival atau romansa?”
Rena ingin pingsan saat itu juga.

 

Hari itu mereka ada kelas tambahan Matematika. Semua siswa mengeluh, kecuali satu orang: Arvan, yang entah kenapa terlihat semangat datang lebih awal.

 

Rena mencoba duduk di bangku biasa—paling tengah, paling aman, paling tidak mencolok. Tapi begitu ia menarik kursi…

 

“Boleh duduk di sini?”

 

Arvan sudah berdiri di sampingnya sambil senyum.

 

“Eh? Kamu? Di sini? Tapi… biasanya kamu duduk di belakang sama anak basket—”

 

“Lagi pengen duduk depan,” jawab Arvan santai sambil menarik kursi di sebelah Rena.

 

Dita yang duduk di belakang mereka hampir meledak menahan teriakan.

 

Kelas berjalan cukup tenang… sampai seseorang masuk kelas dengan ceria.

 

Citra.

 

Siswi cantik, pintar, aktif. Mantan ketua OSIS SMP yang sering digosipkan dekat dengan Arvan.

 

Citra berjalan ke meja Rena dan Arvan sambil tersenyum.
“Arvan! Duduk di depan? Aneh banget kamu…”

 

Arvan hanya mengangguk kecil. “Lagi mau fokus.”

 

Citra tertawa ringan. “Kalau kamu mau aku duduk di sini, bisa banget loh. Biar kita belajar bareng lagi kayak dulu.”

 

Rena menelan ludah.
“Belajar bareng lagi?”
Kayak dulu?”

 

Oh.
Oke.
Ternyata… mereka memang dekat.

 

Citra melirik Rena, tersenyum manis tapi terasa menusuk.
“Kamu Rena, kan? Yang kemarin heboh di koridor sama Arvan itu?”

 

Rena hampir tersedak udara.

 

Arvan cepat berkata, “Cit, aku duduk di sini aja ya. Kamu di sana aja.”
Nada suaranya lembut tapi tegas.

 

Citra mengangkat alis. “Oh? Kamu pilih duduk sama dia?”

 

Seluruh kelas menoleh.

 

Rena ingin menghilang menjadi debu.

 

Arvan menjawab tanpa ragu,
“Iya. Aku mau duduk di sini.”

 

Citra hanya tersenyum tipis, lalu pergi ke kursinya.

 

Rena menatap meja, wajah panas, jantung gak beraturan.
“Kenapa kamu… milih duduk sini?” gumam Rena pelan.

 

Arvan menatapnya santai.
“Soalnya… aku lagi betah duduk dekat kamu.”

 

DEG.
Rena hampir jatuh dari kursi.

 

Sementara Dita di belakang mereka sudah menulis:
“MEREKA JADI APA NIH???”
dan menunjukkan kertas itu dengan ekspresi penuh gosip.

 

Rena hanya bisa menutupi wajah.

 

Hari itu, pelajaran Matematika bukan lagi tentang angka.
Tapi tentang… perasaan yang tiba-tiba rumit.

Comments (0)

Please log in to leave a comment.

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

P

Written by Pendongeng

Hidup dalam imajinasi ✨

Follow Author