Novel · · 3 min read

Chapter 5 - Hujan, Payung, dan Detik yang Membingungkan

Chapter 5 - Hujan, Payung, dan Detik yang Membingungkan

Hujan deras turun tepat setelah jam pelajaran terakhir selesai. Siswa-siswa berdesakan di depan gerbang sekolah, sebagian berteduh di bawah atap koridor, sebagian lagi pasrah kehujanan karena buru-buru pulang.

 

Rena berdiri sendirian sambil memeluk buku pinjamannya. Ia menatap langit yang gelap sambil menghela napas.
“Aduh… payungnya ketinggalan di rumah lagi,” gumamnya.

 

Dita sudah dijemput kakaknya, sambil melambaikan tangan heboh.
“Ren! Kamu yakin nggak mau numpang?”
Rena tersenyum. “Nggak apa-apa, Dit! Jemputan kamu udah sempit!”

 

Begitu Dita pergi, Rena hanya bisa menatap hujan yang makin deras.
Ia mencoba menunggu, tapi udara semakin dingin. Seragamnya mulai lembap, dan buku-buku di tangannya nyaris basah.

 

Saat ia sedang berpikir apakah harus nekat lari menembus hujan—

 

“Ternyata kamu masih di sini.”

 

Rena menoleh cepat.
Arvan berdiri di belakangnya, memegang… payung biru.

 

“Hujan nggak berhenti-berhenti. Kamu nggak bawa payung?”
Rena menggeleng kecil. “Iya… ketinggalan.”

 

Arvan membuka payung itu dan menatapnya sambil tersenyum.
“Kalau gitu, bareng aja.”

 

Rena hampir tersedak udara. “B–bareng?! Tapi rumahku—“
“Arahku lewat gerbang timur. Lewat situ juga, kan?”
Rena mengangguk, pelan sekali, seperti robot mogok.

 

Tanpa menunggu jawaban lain, Arvan menutup jarak dan berdiri di sebelahnya.
Payungnya tidak cukup besar untuk dua orang, sehingga otomatis mereka berdiri… sangat dekat.

 

Terlalu dekat.

 

Rena bisa merasakan aroma sabun yang dipakai Arvan.
Jantungnya berdetak tak karuan.
Tangannya kaku seperti batu.

 

Arvan meliriknya.
“Kamu kedinginan?”
“E… sedikit,” jawab Rena pelan.

 

Arvan menarik payung lebih condong ke arahnya agar Rena tidak basah. Bahunya nyaris menyentuh bahu Rena.

 

“Thanks…” bisik Rena.

 

“Tenang aja. Aku nggak mau kamu sakit gara-gara hujan,” kata Arvan sambil tersenyum lembut.

 

SEKETIKA—Rena merasa seluruh tubuhnya mendadak panas.

Mereka berjalan pelan melewati halaman sekolah yang basah dan tenang, hanya suara hujan yang menemani. Tidak ada keributan kantin, tidak ada teman-teman yang menggoda.

 

Hanya mereka berdua.
Di bawah satu payung.
Dalam detik-detik yang entah kenapa… terasa terlalu spesial.

 

Rena menunduk, menyembunyikan pipinya yang memerah.

 

Sementara Arvan—tanpa terlihat—tersenyum kecil, menikmati momen itu lebih dari yang ia kira.

Comments (0)

Please log in to leave a comment.

No comments yet. Be the first to share your thoughts!

P

Written by Pendongeng

Hidup dalam imajinasi ✨

Follow Author