Chapter 4 - Drama Kantin dan Kursi yang Direbut
Waktu istirahat tiba, dan seperti biasa, kantin SMA Harapan Jaya berubah menjadi arena perang rebutan kursi. Suara panggilan ibu kantin, teriakan teman-teman yang kelaparan, dan aroma bakso yang menggoda memenuhi udara.
Rena datang bersama Dita, masih membawa dua buku yang dipinjam dari perpustakaan.
“Aku lapar banget, Ren… ayo cepat sebelum kursinya habis!” Dita menarik tangan Rena seolah mereka sedang mengejar diskon tengah malam.
Begitu sampai, benar saja—kantin penuh sesak.
“Duh… udah penuh,” keluh Dita.
Namun sebelum mereka menyerah, tiba-tiba seseorang melambai dari jauh.
Arvan.
Rena membeku. Dita langsung berseru lirih, “ASTAGA RENAAAAA…”
Arvan berdiri sambil menunjuk dua kursi kosong di mejanya. “Kalau mau, duduk di sini aja!”
Rena langsung gelagapan. “Loh… kok dia—kok ada kursi—kok dia—”
Dita sudah lebih cepat. Ia langsung dorong Rena mendekat. “Kalau nggak kamu mau, aku aja deh!”
“Sini, duduk,” kata Arvan sambil memindahkan tasnya. Di sebelahnya ada dua teman setim basketnya, tapi mereka juga tersenyum ramah.
Rena duduk dengan hati tidak karuan.
Dita sudah terlihat terlalu bahagia bisa ikut duduk di meja populer.
Obrolan berlangsung nyaman, kecuali detik-detik ketika salah satu teman Arvan, Fikri, bertanya,
“Eh, Van. Ini cewek yang nabrak lo itu ya?”
Dita langsung tersedak minuman.
Rena hampir ingin menghilang dari dunia.
Arvan tersenyum santai. “Iya, yang bikin roti mendarat di kepalaku.”
SEMUA ORANG DI MEJA TERTAWA.
Termasuk ibu kantin yang kebetulan lewat.
Wajah Rena merah sekali.
“Maaf banget… itu bener-bener—”
“Tapi lucu kok,” potong Arvan. “Dan… aku senang bisa kenal kamu gara-gara itu.”
Dita terdiam.
Teman-teman Arvan terhenti.
Dan Rena… merasa jantungnya berhenti berdetak sepersekian detik.
Suasana jadi canggung.
Hening.
Hangat.
Aneh.
Sampai tiba-tiba—
BRAAK!
Seorang siswa yang membawa nampan tersandung kaki meja, nasi gorengnya melayang dan mendarat… tepat di sepatu Fikri.
Meja langsung heboh lagi.
Dan Rena bisa bernapas lega karena setidaknya, untuk beberapa menit, bukan dia pusat perhatian yang memalukan.
Namun satu hal pasti:
kedekatannya dengan Arvan… baru saja dimulai.
Comments (0)
Please log in to leave a comment.
No comments yet. Be the first to share your thoughts!